BAHTERA KESELAMATAN DI DALAM YESUS

Shalom! Beberapa bulan ini Indonesia dan sebagian besar negara-negara di dunia ini bersama-sama menghadapi pandemi virus Corona. Virus ini telah menelan korban-korban jiwa baik di Indonesia maupun di luar negeri. Di dalam firman Tuhan, ada juga virus yang sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa manusia. Namanya adalah dosa. Seperti virus, dosa menjalar ke segala aspek kehidupan manusia. Dikatakan dalam Rom 5:12  Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

Jika kita melihat dalam ketika manusia jatuh dalam dosa, semua aspek terkena dampak. Di Kej 3:10 dst kita dapat melihat dampak-dampak yang ditimbulkan dari dosa. Manusia menjadi takut (Kej 3:10). Termasuk takut untuk bertemu dengan Allah. Hubungan yang tadinya sangat dekat menjadi renggang. Manusia juga menjadi tertutup dan tak lagi memiliki ‘keterbukaan’, sebagai contoh, mereka menutupi ketelanjangannya dengan daun (Kej 3:7). Selain itu manusia juga mengalami kelemahan-kelemahan tubuh, mereka harus mengalami kesakitan saat melahirkan, berpeluh dan bekerja keras dalam hidupnya (Kej 3:16 dst). Ditambah lagi, kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej 6:5-6).

Kita juga belajar dari Alkitab bahwa di masa itu ada seseorang yang mendapat kasih karunia di mata Allah. Namanya Nuh. Dikatakan dalam firman Tuhan, ia orang yang tak benar dan tak bercela di antara orang-orang sezamannya, dan Nuh hidup bergaul dengan Allah (Kej 6:9). Kehidupan bergaul dengan Allah diteladani Nuh dari kakek buyutnya, Henokh. Di Kej 5:24 dikatakan Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Bergaul dengan Allah dapat juga diartikan berjalan bersama dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang hidup bergaul dengan Allah bukan berarti menjadi penyendiri dan hanya berdoa di dalam kamar saja tanpa mau berkumpul dengan sesama. Henokh dan Nuh juga menikah dan beranakcucu seperti orang normal lainnya.

Nuh, ketika dalam kehidupannya selalu bergaul dengan Allah mendapat tugas untuk membangun bahtera. Jika kita melihat di II Petr 2:5, Nuh juga merupakan pemberita kebenaran, artinya ia memberitakan kebenaran kepada orang-orang di zamannya. Namun, pada akhirnya yang ikut ke dalam bahtera hanyalah keluarga Nuh saja beserta hewan-hewan yang diperintahkan Tuhan (Kej 6:7-9). Bahtera yang dibuat oleh Nuh pada akhirnya menyelamatkan keluarganya.

Bagi kita sekarang, Tuhan Yesus juga mengajak kita untuk masuk dalam bahtera keselamatan di dalam iman kepada-Nya. Ajakan ini bukan hanya untuk orang Kristen saja, namun bagi seluruh dunia. Di Yoh 3:16-18 dikatakan Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Kuncinya dapat kita lihat di Yoh 3:18. Ajakan keselamatan sudah disampaikan, apakah kita percaya atau tidak percaya?

Seperti Nuh, hiduplah berjalan bersama dengan Tuhan setiap waktu. Kehidupan yang bergaul dengan Allah didasari dari jalan yang sudah dirintis Yesus untuk kita sekalian (Ibr 10:19-21). Terlebih dahulu kita mengajak dan mengajar keluarga kita untuk masuk dalam bahtera keselamatan di dalam Kristus Yesus. Jangan sampai kita menjadi berkat bagi orang lain, tetapi justru tidak menjadi berkat bagi keluarga kita sendiri.

Jangan hidup sebagai seteru salib Kristus (Fil 3:18) yang hanya memikirkan urusan duniawi, urusan perut dan tidak merasa malu atas aib karena dosa. Dengan hidup bergauul dengan Allah kita akan menjadi sekutu Allah. Kita akan diselamatkan dan mendapat keluputan dari berbagai macam hal yang mengancam. Kuatkan selalu iman kita. Keselamatan kita hanya ada di dalam Kristus Yesus. AMIN!

Ringkasan kotbah Kebaktian Minggu Pagi, 15 Maret 2020 oleh :  Pdt.Yesaya Sihombing

Ke Gereja Mencari Apa?

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri apa sebenarnya tujuan kita bergereja (menjadi jemaat dalam suatu gereja)? Jangan sampai kita salah tujuan. Ada orang yang bergereja hanya karena ingin berkat-berkat jasmani. Ada pula yang karena ingin mendapat penerimaan. Ada juga yang ingin mendapat jodoh, dll. Hal tersebut secara umum memang dapat menjadi tujuan orang bergereja. Bahkan kitapun mungkin pernah memiliki tujuan-tujuan demikian.

Di Ef 4:11 dst kita dapat melihat apa yang sebenarnya menjadi tujuan kita bergereja.

Ef 4:11-16 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Paulus mengatakan Tuhan memberikan hamba-hamba-Nya bagi gereja, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. Tubuh Kristus tersebut perlu mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai kepenuhan Kristus. Itulah yang menjadi tujuan  kita berjemaat di suatu gereja. Agar kita terus didewasakan dan dibangun menjadi tubuh Kristus yang sempurna.

Sebagai tubuh Kristus kita perlu membangun kesadaran bahwa Tuhan Yesus adalah Kepala atas tubuh-Nya (Ef 4:15; 1:22-23). Kita dijadikan sebagai tubuh-Nya bukan karena kebakan yang kita lakukan. Jemaat sebagai tubuh Tuhan didapat melalui pengorbanan-Nya Kis 20:28 Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.

Sebagai jemaat Tuhan hendaknya menyadari kita bahwa orang percaya ditebus dengan harga yang mahal, bukan dengan emas atau perak, tapi dengan darah-Nya sendiri (I Petr 1:18-19). Artinya juga bahwa di dalam jemaat Tuhan kita sama-sama ditebus oleh darah Kristus. Di dalam tubuh Kristus ada tanda darah Kristus. Darah Kristus menebus, menguduskan, menyucikan, dan juga memperdamaikan kita dengan Allah dan manusia. Karenanya, kita harus menyadari posisi kita sebagai tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepala. Artinya sebagai tubuh Kristus kita tidak bisa sembarangan dalam memilih atau memutuskan sesuatu. Dengan kata lain, jangan hidup sekehendak hati kita sendiri.

Selanjutnya sebagai tubuh Kristus kita perlu membangun kesadaran : pertama, satu tubuh terdiri dari banyak anggota (I Kor 12:14). Paulus menggambarkannya dengan tubuh manusia, ada indera pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba, dll. Artinya sebagai anggota tubuh Kristus kita perlu menyadari perbedaan-perbedaan yang ada di dalam jemaat Tuhan. Jangan sampai perbedaan-perbedaan membuat kita merasa jauh satu dengan yang lain.

Selain itu, Paulus menasihatkan agar kita tidak hanya terpaku dengan pelayanan-pelayanan yang terlihat saja (I Kor 12:23). Seperti tubuh manusia, ada organ-organ dalam yang tak terlihat namun justru sangat penting, seperti tulang, paru-paru, jantung, dll. Kita perlu memberikan perhatian lebih kepada anggota-anggota yang demikian. Dalam pelayanan, bisa jadi mereka bukan pelayan mimbar, namun keberadaannya sangat penting bagi keberlangsungan gereja, contohnya adalah pendoa-pendoa syafaat.

Terlebih lagi sebagai sesama anggota tubuh Kristus kita perlu memiliki sambung rasa satu sama lain (I Kor 12:26). Ada keterikatan rasa. Ketika satu anggota menderita, semua ikut menderita. Ketika satu anggota dihormati, semua anggota ikut senang. Jangan sampai sebaliknya, susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah. Itu sebabnya sebagai sesama anggota tubuh Kristus kita perlu saling memperhatikan.

Dalam hubungannya dengan Perjamuan Kudus, Paulus juga mengatakan Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu (I Kor 10:17)

Ketika menerima roti, kita menyadari bahwa itu adalah tubuh Tuhan. Tubuh Tuhan juga berbicara tentang jemaat yang merupakan tubuh Kristus, satu tubuh namun berbeda-beda. Menerima perjamuan kudus artinya menerima perbedaan satu sama lain

Anggur berbicara tentang darah Kristus yang telah menebus dan memperdamaikan kita dengan Allah dan sesama. Ketika menerima anggur, kita juga diingatkan untuk hidup dalam perdamaian antara satu sama lain sebagai sesama anggota tubuh Kristus.

Paulus juga mengingatkan agar kita tidak mendua I Kor 10:21 Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat.

Kita tidak bisa minum dari cawan Tuhan sekaligus minum dari cawan roh jahat. Dalam konteks ini Paulus berbicara tentang persembahan berhala yang juga dimakan oleh jemaat Korintus. Penyembahan berhala bukan sekedar berbicara tentang menyembah patung. Namun juga tentang hal-hal buruk seperti keserakahan, percabulan, dll (Kol 3:5). Penyembahan berhala juga dapat terjadi ketika kita menganggap konsep-konsep dunia ini lebih tinggi dari pada firman Tuhan.

Artinya, jangan sampai kita menerima perjamuan kudus, namun juga masih memelihara sifat-sifat buruk dalam hidup kita. Kita tidak bisa mengikut Tuhan namun masih memegang keduniawian. Itu sebabnya Paulus meminta kita untuk menyelidiki hati kita sendiri sebelum kita menerima Perjamuan Kudus (I Kor 11:28-30)

Karenanya, mari menyadari bahwa sebagai umat Tuhan kita perlu memiliki tujuan yang benar dalam beribadah. Kristus adalah Kepala dan kita adalah tubuh-Nya. Sadarilah perbedaan satu sama lain dan hiduplah dalam perdamaian karena darah Kristus telah memperdamaikan kita. Terus ingat kasih-Nya dalam hidup kita lewat mengikuti Perjamuan Kudus dengan cara yang benar.

Ringkasan kotbah Keb.Minggu Pagi, 3 November 2019 oleh :  Pdt.Yesaya Sihombing

Jangan Kecewa dan Menolak-Nya

Dalam Mat 11:6 dikatakan Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.  Kepada siapakah ayat ini ditujukan? Ayat tersebut ditujukan kepada Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya. Situasi saat itu adalah Yohanes Pembaptis sedang berada di penjara (berhubung dengan peristiwa Herodes dan Herodias di Markus 6:17). Saat di penjara itulah Yohanes mendengar tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan Yesus. Bila di awal pelayanannya Yohanes begitu yakin bahwa Yesus adalah Mesias (Mat 3:13 dst), maka saat di penjara ia mulai ragu. Ia menitip pesan kepada para muridnya untuk menanyakan kepada Tuhan Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3)

Keraguan Yohanes bisa disebabkan berbagai macam hal :

  • Situasi penjara

Yohanes menjadi contoh hamba Tuhan yang tidak kompromi dengan dosa. Ia bahkan berani menentang orang-orang berduit, prajurit, orang berkuasa, bahkan raja! Itu sebabnya ia dimasukkan ke dalam penjara (Mark 6:17). Penjara adalah sebuah tempat (situasi) sendiri dan penuh keterbatasan. Keterbatasan bergerak, keterbatasan mendapat makanan dan minuman, keterbatasan kenyamanan, dll. Situasi penjara pernah juga dialami oleh : Yusuf, Petrus, Paulus dan Silas, Yesus. Penjara juga berbicara tentang rutinitas yang terus berulang seperti suatu lingkaran yang mana kita sulit untuk keluar darinya.

  • Tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri apa yang Yesus lakukan

Posisi di penjara membuat Yohanes tidak melihat dengan matanya sendiri apa saja yang sedang dan telah dilakukan oleh Yesus. Seringkali kita masih sangat tergantung dari apa yang kita lihat. Tuhan Yesus mengatakan di Yoh 20:29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”. Kita perlu belajar untuk melihat dengan mata iman  Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (II Kor 4:18)

  • Belum terlihatnya Kerajaan Allah yang dijanjikan

Ketika memulai pelayanannya, Yohanes Pembaptis diberi pesan oleh Tuhan tentang akan datangnya Kerajaan Allah (Mat 3:1 dst). Entah bayangan Kerajaan Allah seperti apa yang dibayangkan oleh Yohanes Pembaptis (bisa jadi seperti konsep bangsa Israel pada umumnya, bahwa mereka akan lepas dari penjajah Romawi). Yohanes belum melihat penggenapan dari pesan yang disampaikannya. Ia menanti tapi belum mendapatkan jawaban dari penantian tersebut. Apa yang dimaksud oleh Yesus tentang datangnya Kerajaan Allah dapat kita lihat di Luk 11:20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.

Ketiga hal tersebut pada akhirnya dapat membuat seorang Yohanes Pembaptis kecewa. Itu sebabnya Yesus mengatakan  “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Mat 11:6)

Kecewa bisa berakibat pada penolakan. Di Yoh 16:1 Yesus mengatakan juga kepada murid-murid-Nya, “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.” Namun di pasal sebelumnya Ia menjanjikan tentang Roh Kebenaran yaitu Roh Kudus yang akan menyertai para murid (Yoh 15:26-27) dan di Yoh 16:7 dst Yesus kembali berbicara tentang Roh Kudus. Betapa pentingnya kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus yang juga disebut Penghibur.

Pada akhirnya apakah Yohanes Pembaptis bebas dari penjara? Tidak. Justru ia dipenggal dan kepalanya dijadikan sebagai hadiah kepada Herodias (Mark 6:24 dst). Sepertinya tidak ada yang menyenangkan dari hidup Yohanes Pembaptis. Sedari muda ia menerima panggilan Tuhan dan tinggal di padang gurun (Luk 1:80). Setelah itu ia menyampaikan firman Tuhan dan justru dipenjarakan, pada akhirnya dipenggal. Kisah yang tidak diimpikan manusia. Namun di situlah kita belajar bagaimana Yohanes begitu ditinggikan Tuhan Yesus (Mat 11:7-9).

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, tetaplah mengikut Yesus sampai akhir. Jangan kecewa dan menolak-Nya. AMIN!!

Ringkasan kotbah Keb.Minggu Pagi, 27 Oktober 2019 oleh :  Pdt.Yesaya Sihombing

Tuhan Melihat Hati

red.apple@timelicious.com

BERDIRI di selasar lantai dua kampus, aku bisa melihat dua laki-laki bersandar di pembatas selasar lantai tiga gedung seberang. Yang satu, tampak bersinar. Dia adalah Mahesa. Tuhan telah mengirimkan dia ke dunia sebagai “Paket Combo”. Dia mampu membuat perempuan waras menoleh kepadanya berkali-kali, aku salah satunya. Mahesa tahu namaku, seperti dia tahu nama Presiden Indonesia yang pertama hingga yang terkini, seperti dia tahu nama Michael Jordan, seperti dia tahu besok hari apa. Aku hanya sekedar nama untuknya. Bila berpapasan, kadang dia menyapa, kadang seperti lupa.

Yang satu lagi, biasa saja. Berdiri di sebelah Paket Combo, dia tampak seperti “Paket Hemat”, aku tidak perlu berpanjang-panjang membuat gambaran dirinya. Dia tahu namaku, dia tahu makanan kesukaanku, dia tahu selera humorku yang payah, dia tahu kebodohanku, dan dia tahu semua yang—herannya—tidak pernah aku tutupi hanya terhadap dia. Jujur saja, aku tidak punya kepentingan, maka aku tak merasa harus jaga image di hadapan lelaki seperti dia.

Paket Hemat tiba-tiba melihat ke arahku. Dia tersenyum lebar dan melambaikan tangan. “Apa lihat-lihat? Kangen, ya? Kuliah apa?” teriaknya.

Hatiku mencelos. O, come on bukan kamu yang sedang aku pandangi.

Sementara, Mahesa sibuk dengan ponselnya.

* * *

Satu bulan kemudian.

SENJA Utama Solo yang kutumpangi sudah mulai bergerak pelan saat seorang lelaki berkaos hitam Che Guevara dan jeans biru lusuh datang membawa bantal angin plastik bergambar Donald Bebek. Kupikir, mengapa lelaki seganteng itu jadi penjaja bantal di kereta?

Aku tak bergerak. “Nggak, Mas. Terima kasih,” kataku.

Di dalam dengusnya, dia menahan tawa geli. “Gue tadi udah duduk di situ. Lo bisa tolong geser dikit? Pantat gue lebar,” katanya.

“Maaf ya, Mas.” Aku bergeser hingga pundakku menyentuh jendela berkaca buram itu. Aku jadi salah tingkah. Untunglah tak lama, senyum ramah di bibirnya mendamaikan hati, termasuk melenyapkan rasa lelahku setelah seharian itu mengikuti seminar di Jakarta.

Setelah beberapa saat aku hanya diam dengan earphone yang tersambung ke sebuah walkman di dalam tasku, dia bertanya, “lo dengerin apa?”

“Il Divo. Tahu?”

Dia meraih sebelah earphone tanpa basa-basi, mendengarkan sebentar, lalu mengangguk pelan. “I only wanna be a man, to give you everything I can.” Dia mengulang lirik yang baru saja kami dengar. “Lagu cengeng. Tapi, cowok yang baik memang memberi semua yang dia bisa ke ceweknya,” lanjutnya.

“Mas-nya begitu?”

Dia menggeleng, “gue berusaha,” katanya.

Sepanjang perjalanan menuju Solo, aku tak bisa mengantuk. Obrolan dengannya begitu hidup, seakan dia laki-laki yang memiliki begitu banyak ketertarikan sehingga nyambung dengan ragam obrolan. Dewasa.  

Setiba di Solo, dia buru-buru turun terlebih dulu sebelum petugas meletakkan tangga di depan pintu kereta. Dia mengulurkan tangannya padaku, membantuku turun. “Masih subuh, gue antar ke kos lo, ya. Bahaya cewek jalan sendirian sepagi ini,” katanya.

Aku terperangah. “Nggak usah repot. Aku sudah biasa.”

No. Pokoknya gue antar. Lo sholat?” Dia bertanya.

Dua detik terpana, aku menggeleng.

“Lo tunggu gue ya, gue sholat dulu. Pokoknya, gue antar.”

Aku mengangguk. Tertawa di dalam hati.

* * *

Tiga bulan kemudian.

“MBAK. Dapet salam dari Mas Hadi,” kata ibu penjual ayam bakar di samping kos, sedang tangannya sibuk mengipasi ayamku di atas bara.

“Mas Hadi yang mana, Bu?” tanyaku.

“Ada. Nganu … anak kos dekat sini juga. Beberapa kali sampeyan ke sini, dia juga sedang di sini. Tapi, ndak tahu kenapa cuma diam ndak mau nyapa langsung, malah nitip salam,” jelas si Ibu sambil tersenyum menggoda.

Aku hanya mengangguk.

“Salam kembali, ndak? Guanteeeeng loh.”

“Nggak usah, Bu. Nggak kenal,” kataku.

Ibu tersenyum. “Nah, benar. Harus begitu,” ujarnya.

Beberapa hari setelah itu, Hadi menampakkan wujudnya. Dia menghentikan sepeda motornya di depanku saat aku dalam perjalanan pulang ke kos. Basa-basi ini dan itu, diakhiri dengan bertukar nomor ponsel.

Permintaan pertamanya untuk datang ke kos aku tolak dengan alasan sudah ada kegiatan lain. Aku tidak merasa benar mengiya pada permintaan pertama, tips di internet yang melarang. Katanya, supaya tidak terkesan murah. Lagi pula, aku tidak mau dinilai telah silau dengan sepeda motor Ninja merahnya itu.

Setelah permintaan yang ketiga, aku baru mengizinkannya. Pukul 7 malam sudah lama berlalu, Hadi tidak juga muncul . Tidak ada pesan dan sampai kapan pun aku juga tidak akan bertanya.

Hingga jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 10, barulah ada pesan masuk darinya.

Sorry, aku nggak bisa datang. Ada sembahyang. Aku lupa kalau malam ini purname. Besok malam mau ya?

Purname? Bulan purnama? Sembahyang?

Farah, teman kos sekaligus teman komsel tertawa menyamai Ursula. “Bu, Bu, nasibmu, Bu,” katanya di sela tawa yang tak juga reda. “Kemarin di kereta, kepentok Masjid. Sekarang, kepentok Pure.

Aku mencebik kecil, mempermainkan tali bantal guling sampai keriting. “Aku nggak sadar kalau sudah sewajarnya dia ke Pure. Wong dia memperkenalkan diri sebagai Gde padaku, bukan Hadi. Nggak selalu orang Bali ke Pure sih, tapi ya … yang ini nyatanya begitu. Kapan aku punya pacarnya kalau begini, ya? Semua berakhir sebagai teman.” 

 Farah lalu menyebutkan sebuah nama. “Dia baik loh, Bu,” katanya dengan wajah serius.

“Oh, si Paket Hemat … memang baik.”

“Lantas?”

Aku tak menjawab Farah. Sebagai sesama perempuan yang giting karena melihat wajah Lee Min Ho, Won Bin, dan sederet Paket Combo lainnya, Farah tak wajar bertanya begitu.

“Paket Hemat?” ulang Farah, lalu dia kembali tertawa keras.

* * *

“NAT! Nat! Tunggu, Nat!”

Aku menoleh ke belakang untuk mencari asal suara yang baru saja meneriakkan namaku.

Mahesa!

Amboi … hari ini aku tidak sekedar terlihat saja, aku juga terpanggil. Kulemparkan senyum yang paling manis untuknya.

“Kamu lihat Ruben?”

Bah! Cuma mau bertanya di mana si Paket Hemat.

“Sekarang ini ada teknologi yang disebut handphone. Call him. Done,” kataku.

“Kamu galak banget, sih.” Mahesa mengacungkan ponselnya. “Aku sudah telepon, nggak diangkat-angkat. Dia bawa USB-ku.”

Flashdisk! Bukan USB! Buat apa dia bawa-bawa flashdisk-mu? Punya dia juga banyak.”

Aku malah balik bertanya untuk sesuatu yang bukan urusanku. Entah mengapa aku bertanya begitu setelah aku mengingat bahwa Ruben punya beberapa flashdisk (Ruben pernah memberiku satu flashdisk baru setelah fee sebagai asisten dosen miliknya cair. Aku memaksanya mengambil setumpuk komik milikku sebagai barter. Menerima barang gratis dari laki-laki adalah pelanggaran peraturan baku dari nenek moyangku ).

Kedua alis Mahesa melengkung ke atas. “Nggak usah galak, Nat. Aku copy tugas dari dia, sebentar lagi dikumpul. Biasanya dia gasik (datang lebih awal),” ujar Mahesa, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kami, seakan Ruben bisa ada di mana saja.

Mahesa yang gelisah secara berlebihan membuat semua hal tentang dirinya yang tadinya tampak begitu besar di mataku, kini menciut begitu kecil.

Ingatanku melayang ke suatu hari di akhir Semester lalu. Di sebuah warnet yang berada di depan kampus, Ruben duduk di sampingku, sementara aku sedang mengecek nilai mata kuliah Pemrograman Perangkat Bergerak(Mobile Programming) di portal mahasiswa.

“Dapat apa?” Dia bertanya.

“Rantai karbon,” jawabku.

Aku tak perlu balik bertanya Ruben dapat nilai apa. Aku sudah tahu, bahkan sejak sebelum ujian.

“Aku selalu ngasih kamu copy tugas-tugas yang diberi dosen, tapi kamu jarang mengumpulkan,” katanya dengan mulut dipenuhi pisang goreng isi cokelat keju.

Bicara pemrograman piranti lunak—software, artinya bicara seribu satu jalan menuju Roma. Jika 26 mahasiswa di kelasku benar-benar membuat tugas secara mandiri, maka ada 26 juga cara mengerjakannya.

“Aku selalu mempelajari copy dari kamu, Ben. Kalau aku bisa memahami jalan logikamu, aku akan membuat sendiri dengan alur yang berbeda. Setidaknya, ada yang berbeda … tidak sama persis dengan punyamu. Mukaku mau taruh di mana kalau dosen sampai tahu tugas kita isinya sama? Cuma beda variabel. Kamu tulis X, aku ganti jadi Y.”

Ruben menyeringai lucu, memperlihatkan gigi penuh coklat.

Aku tidak menyukai tatapan yang menertawakan seperti itu. “Aku ini nggak pintar, Ben. Tapi, aku nggak pernah nyontek. Seumur-umur, aku nggak pernah nyontek. Pernah ding, pas SMP. Sekali itu doang,” kataku.

Ruben mengangguk-angguk sok takzim sembari menjejalkan sisa pisang gorengnya di tangannya ke mulutku.

* * *

Setahun kemudian.

AKU menangkupkan kedua tangan ke wajah. Mataku pedih menatap layar laptop, otakku pedih memikirkan deretan code yang tampil di sana. Sudah dari pagi aku mendamparkan diri di rumah Ruben. Sedari tadi, aku berusaha menyelesaikan kegagalan programku dengan panduan Ruben, masih saja mentok.

Ruben, si Paket Hemat, berbaring santai di atas sofa ruang tamu dengan sebuah komik “Katsu!” di tangan, setumpuk lagi ada di lantai. Dia sudah wisuda 2 bulan lalu. Belakangan ini, dia sibuk melamar pekerjaan via internet dan mengikuti beberapa job fair.

“Pusing?” tanya Ruben.

“Kurang jelas?”

Sudah sejak lama Ruben tak pernah lagi memberiku copy tugas begitu saja. Dia akan membantu aku untuk memahaminya dengan menjelaskan runtut logikanya penuh sabar. Yang sedang kukerjakan ini adalah skripsiku, tentu dia tak punya copy dan tentu aku harus menyelesaikannya sendiri kalau tak mau dibabat habis dan tampak tolol saat sidang 3 hari lagi.

Ruben mencabut earphone dari telingaku. “Jangan-jangan benda ini yang bikin kamu nggak bisa konsentrasi,” katanya sembari memakaikan ke telinganya sendiri. “Bukannya memikirkan skripsi, malah nyanyi-nyanyi dalam hati.”

One hundred percent correct , kataku di dalam hati.

“Il Divo ….” Ruben mengucapkannya dalam gumam pelan. Dia tidak suka lagi dengan genre semacam ini, kalau dia tahu Il Divo, itu karena aku suka Il Divo dan suka memaksa Ruben mengunduhnya dari Laboratorium Komputer tempat dia mengajar.

“Ya. I just wanna be a man, to give everything I can. Tahu artinya, nggak?” tanyaku.

Aku menyindir kemampuan bahasa Inggris-nya. Setidaknya, ada juga yang bisa kubanggakan dan yang tidak bisa dia banggakan. Nilai bahasa Inggris Ruben bisa bagus kalau menyoal grammar, kalau menyoal listening dan conversation adieu!

Ruben mencebik. “Sombong!”

“Eh, Ben ….” Aku menoleh ke arahnya. “Cowok yang baik memberi semua yang dia bisa ke ceweknya, ya?”

Bibir Ruben mengerucut, keningnya mengkerut, lalu beberapa detik kemudian dia menggeleng. “Kok, kesannya gampang, ya? Cowok versi-mu lebih baik,” jawabnya.

Tidak ada tanda-tanda dia akan menjelaskan jawabannya lebih jauh. Aku mencecarnya, “kamu tahu apa tentang cowok versi-ku?”

“Tahu, dong … kamu nggak langsung suka dengan cowok yang memberimu hal-hal yang dia bisa. Dikasih copy tugas, kamu nggak mau pakai. Kamu malah mau jalan yang lebih susah; kamu maunya diajari, dijelaskan, ditemani. Apa peribahasanya? Dikasih ikan, malah minta alat pancingnya. Lah, sekarang ini misalnya, aku mau bantu mengerjakan, kamu mau mengerjakan sendiri. Mending kalau selesai.”

Aku menelan ludah mendengarnya. Itu pujian atau hinaan?

Ruben mencolek pelan kepalaku. “Eh, Non! Kalau ada cowok yang tahan menghadapi tuntutanmu yang menyusahkan ini, selamat! Dia nggak cuma baik, dia hebat!”

“Yaaah, Ben … apa itu salah?”

“Entahlah. Yang aku tahu, aku nggak bisa main PS sama Mahesa gara-gara menemani kamu di sini. Minggir! Sini aku yang kerjakan, setelah itu aku jelaskan sampai kamu paham.”

Tidak sampai setengah jam, kutu-kutu busuk yang menggerogoti program skripsiku punah dibasmi Ruben. Aku merasa buruk. Lalu, Ruben menjelaskan apa yang sudah dia kerjakan padaku sampai aku jengah dan berpura-pura paham karena sadar Ruben sudah berbusa-busa lebih dari 3 jam. Aku makin merasa buruk.

“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Nat. Apalagi Dia melihat kamu berusaha mati-matian,” hibur Ruben setelah melihat air mataku luruh tak malu-malu. “Tuhan akan mempermudah sidangmu nanti.”

Aku ngeri mendengar kata sidang yang dia ucapkan, membuat aku merasa telah sampai pada titik tertinggi kebodohanku. Bagiku, ucapan-ucapan surga Ruben hanyalah copy paste dari sana-sini, terdengar semu, terasa kosong.

“Ben … dengar baik-baik,” kataku sembari memejamkan mataku, aku berusaha mengingat sebuah kalimat yang pernah aku baca entah kapan dan dimana. “Jika Tuhan itu mahabesar, maka Dia pasti mampu menciptakan sebuah batu yang luar biasa besar, sehingga Dia sendiri tidak mampu mengangkatnya. Bagaimana kamu menjelaskan itu dengan argumenmu tadi; tidak ada yang mustahil bagi Tuhan?”

Ruben tidak menjawab. Dia menunduk, menggerakkan mouse dengan ujung telunjuknya.

“Kamu nggak bisa jawab karena kamu nggak tahu apa yang kamu katakan tadi, Ben. Aku nggak pintar! Semua ini terasa mustahil! Kamu bisa bicara seenaknya begitu karena kamu nggak pernah memiliki kebodohan ini! Kamu memiliki semua yang kamu butuh. Hidupmu itu jalan tol! Cuuuus! Lurus tanpa hambatan!”

Ruben seketika mengerling ke arahku. “Oh ya? Aku bisa memiliki semua yang aku butuh? Masa, sih?” tanya Ruben dengan suara yang dipelankan.

“Ya! Kamu kurang apa?”

“Aku butuh kamu, Natalia. Tapi nggak bisa memiliki kamu, mungkin nggak akan pernah bisa. Aku cuma Paket Hemat.”

WHAT?

Kalimat terakhir Ruben adalah sebuah balok yang dilesakkan ke dalam batang leherku, aku sesak. Aku tak lagi sekedar merasa buruk dan bodoh, aku merasa kecil, kecil, dan kecil sekali. Aku ingin menghilang dari hadapannya. Atau, aku bunuh diri saja. Garpu di atas piring roti lapis di samping laptopku ini mampu membunuh seefisien guillotine.

Aku cuma Paket Hemat.

Kalimat Ruben bergaung di kepalaku.

Aku yang cuma kuman di karpetmu ini, Ben ….

“Nat?” panggil Ruben.

Aku tak mampu mengangkat kepala. Ya, Tuhan Yesus tolong aku, batinku menjerit-jerit. Semenit lalu, aku menggugat kemapanan Tuhan. Sekarang, aku melolong minta tolong pada Tuhan yang sama. Tuhan pun menertawakan aku.

“Nat, jangan menangis, please … nanti mama mengira aku berbuat yang nggak-nggak,” bisik Ruben.

Aku mengelap air mata campur ingus dengan leher kaos yang kupakai.

Ruben meraih kotak tisu di samping televisi dan meletakkannya di pangkuanku. “Jorok sekali. Kok, aku suka cewek jorok …,” gumamnya.

Aku hanya pernah mengatakan istilah Paket Hemat itu kepada Farah. Kami semua satu fakultas, Ruben kenal Farah. Aku tidak perlu menyangkal julukan pemberianku itu pada Ruben saat ini karena Farah tidak berbohong, Farah hanya tega.

“Maafkan aku, Ben ….” Setulus hati kukatakan itu meski masih tak mampu menegakkan kepala.

“Yang kamu katakan mengenai batu besar itu adalah paradoks, Nat. Aku nggak tahu penjelasannya. Nggak ada yang mustahil bagi Tuhan. Itu saja yang aku yakini,” kata Ruben. Dia memilih membahas pertanyaanku ketimbang hinaan terhadapnya.

“Ben—”

“Coba aku balik tanya ke kamu.” Ruben memotong ucapanku. “Mengapa Tuhan menciptakan pohon pengetahuan baik dan buruk? Mengapa Tuhan melarang manusia memakan buahnya, tetapi malah meletakkan pohonnya di tengah-tengah taman? Mengapa Tuhan baru menempatkan Kerub untuk menjaga pohon itu, justru setelah manusia memakannya? Mengapa begitu besar niat Tuhan untuk mengejar ego manusia sampai ambang batas maksimal?”

Aku tidak tahu mengapa. Lagi pula, untuk bicara satu patah kata lagi saja, aku merasa tak layak.

“Makanya, aku lebih suka baca komik,” lanjut Ruben. “Kalau aku seperti kamu yang terlalu banyak membaca buku-buku berat, aku akan jadi atheis ketika memikirkan jawaban ini dan itu. Untukku, iman itu adalah buah perasaan, Nat. Bukan melulu buah pikiran. Kalau pertanyaanku tadi aku jawab sendiri menggunakan pikiran, jawabannya akan jadi aneh.”

“Ma—maksudnya?”

“Salah satu saja misalnya, mengapa Tuhan baru menempatkan Kerub setelah manusia memakan buahnya. Aku akan jawab, karena Tuhan sudah lelah.

“Le—lelah?”

“Nggak usah gagap begitu, Nat. Kamu malah makin menggemas—maksudku, Tuhan sudah bekerja 7 hari full, kan. Bisa jadi Tuhan sudah lelah sampai-sampai nggak terpikir untuk menempatkan Kerub dari awal. Logikaku begitu.”

“Itu bukan gurauan karyamu sendiri! Sejak kapan kamu gandrung Mark Twain?” Akhirnya, ada juga yang bisa memicu kebawelanku kembali mengudara: kebohongan Ruben.

Ruben menyeringai lebar. “Aku nggak cuma baca komik. Aku belum bilang ya?”

* * *

SIDANG skripsiku berjalan lancar. Tidak ada pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Semua kujawab meski ada jawabanku yang hanya terdiri dari tiga kata: saya tidak tahu. Apapun hasilnya, aku sudah lega. Bila harus merevisi, nilai pas-pasan, atau mengulang sidang, aku akan menjalaninya.

Sejak tragedi Paket Hemat  di rumah Ruben, aku belum pernah bertemu dia lagi. Tadi malam, dia hanya mengirim pesan agar aku banyak berdoa dan percaya pada pertolongan Tuhan Yesus. Dia bilang, dia tidak bisa datang karena hari ini dia harus berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja.

Berjalan pelan menyusuri lorong fakultas, aku berniat untuk mengirim pesan singkat pada Ruben bahwa sidangku sudah selesai dan aku sangat berterima kasih atas bantuannya. Aku mengeluarkan ponsel dari saku rok hitam yang kupakai, baru saja aku menyalakan layarnya, aku mendengar namaku dipanggil dari arah depan. Ruben ada di sana, duduk di ruang tunggu dengan ransel besar di bawah kakinya.

Dia meraih ranselnya dan datang mendekati aku yang hanya bisa terpaku melihat dia ada di kampus, di situ, menungguku.

“Lega, Nat?” Senyum Ruben mengembang sempurna.

Aku membalas senyumnya. “Ya. Thanks to you.

“Bukan aku yang menemanimu di dalam situ,” balasnya.  

“Ya. Thanks to Daddy J untuk yang itu … bukannya kamu naik pesawat pagi?”

Ruben tersenyum samar. “Aku akan ke bandara sekarang. Pesawatku dua jam lagi.” Ia menepuk pundakku,  meremasnya pelan. “Kamu pasti lulus. Paling revisi … ya, bisalah ….”

Aku mengangguk, “ya, aku bisa.”

Ruben melepas tangannya dari pundakku. “Bye, Nat.” Ditariknya kuncir ekor kudaku, lalu buru-buru berbalik dan berjalan menjauh. Hingga punggungnya menghilang di anak tangga, dia tidak menoleh lagi. Dia tak menunggu aku mengatakan apapun.

Mungkin dia menyukaiku, mungkin sudah berhenti. Dia tidak pernah membahasnya lagi. Mungkin aku juga menyukainya, atau baru mulai menyukainya. Aku tidak mau memikirkan itu, aku hanya ingin membiarkan hatiku merasakannya.

Bye, Nat.

Mengapa dia tidak bilang. Bye, Nat. See you. Apakah dia tidak mau bertemu denganku lagi dan senyumnya tadi akan jadi yang terakhir kali? Selama pertanyaan ini belum terjawab, aku rasa aku akan setengah mati merindukan dia. Dia adalah Paket Combo karena pikirannya, karena caranya terhubung dengan Tuhan yang dia sembah.

Salah satu dosen penguji memanggilku untuk kembali masuk. Aku dinyatakan lulus dengan revisi minor; typo, penggunaan istilah asing, semacam itu. Hanya kujawab dengan anggukan kepala berkali-kali.

Semua dosen penguji sudah keluar dari ruangan, tinggal aku membereskan barang-barangku. Tidak ada sedikitpun rasa senang dengan keputusan sidang itu. Biasa saja.

Aku membuang pandanganku ke luar jendela, langit begitu biru. Entah di mana Ruben kini berada. Jika Tuhan masih mengizinkan aku bertemu dengannya, maka aku akan bertemu. Sebelum itu terjadi, bahkan sejak detik ini, aku berjanji pada diri sendiri, pada Tuhan, untuk belajar melihat hati. Sebab, Tuhan melihat hati. ∎ 

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata,tetapi TUHAN melihat hati.”

1 Samuel 16:7

Fokus

Penulis : Daniarti Dhyan Christanti (Dosen Universitas Pelita Harapan)

(Dosen Universitas Pelita Harapan)

Mendengar kata fokus, biasanya pikiran kita akan mengarah pada serangkaian tindakan yang menunjukkan komitmen untuk  mencapai sebuah tujuan atau target tertentu. Namun kemudian sering muncul perasaan tidak yakin apakah kita bisa mengerjakan semua itu, perasaan takut gagal, merasa tidak mampu atau merasa tidak lagi bersemangat untuk mengejar target tersebut. Semua hal itu membuat kita kehilangan fokus dan tidak dapat mencapai target yang diinginkan. Bagaimanakah sebaiknya kita bersikap sehingga tidak menghancurkan fokus dan dapat mencapai target?

Kita tidak bisa menjaga diri untuk fokus seringkali karena tidak memberi nilai pada target itu. Hal ini terlihat dari bagaimana persepsi kita pada target tersebut? Seberapa bernilainya target itu bagi kita? Terkadang sadar atau tidak sadar, kita tidak melihat target itu bernilai untuk dikejar atau diperjuangkan, akibatnya kita cenderung mudah melepaskan target tersebut, mudah merelakan jika target itu tidak tercapai, memberi banyak dalih untuk pelanggaran komitmen, membiarkan kegagalan karena tidak merasa kehilangan sesuatu yang bernilai. Misalnya, cara belajar, cara membagi waktu, cara mengerjakan tugas atau pola hidup mahasiswa A yang berfikir ‘yang penting lulus dan tidak mengulang mata kuliah’ tentu akan berbeda dengan mahasiswa B yang berfikir ‘harus lulus dengan nilai semaksimal mungkin’.  Mahasiswa A merasa lulus dengan nilai maksimal sebagai hal yang kurang bernilai, sedangkan mahasiswa B menganggap lulus dengan nilai maksimal adalah hal yang bernilai dan layak diperjuangkan. Mahasiswa B tentu akan memiliki perilaku yang lebih menunjukkan fokus dan komitmen untuk mencapai nilai terbaik dibandingkan dengan mahasiswa A. Dititik inilah kita perlu memeriksa diri, apakah saya memandang berharga target yang saya tetapkan? Apakah nilai dari target itu cenderung mudah digantikan oleh hal yang lain. Hal apakah yang akan mudah menggantikan nilai dari target yang saya tetapkan? Apakah saya benar-benar tahu mengapa saya memandang target itu berharga bagi saya?

Kita juga dapat menjaga fokus dan mencapai target dengan mengatur seluruh sumber daya dalam diri dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan. Hal ini berarti kita perlu membuat skala prioritas, memilah mana yang penting dan yang tidak penting, kemudian membuang hal-hal yang tidak penting. Dengan demikian seluruh energi, perhatian, sumber daya diarahkan hanya pada hal-hal yang benar-benar akan membawa pada tujuan saja. Disinilah kita sering mengalami kesulitan. Banyak orang sulit sekali merelakan (baca membuang/ meninggalkan) acara-acara, undangan-undangan, aktivitas-aktivitas, kursus-kursus, lingkungan pertemanan, atau banyak variable lain yang sesungguhnya tidak mengarahkan mereka pada target. Kondisi ini sering muncul dalam keseharian mereka, dan direspon begitu saja, tanpa dipertimbangkan apakah penting atau tidak, bermanfaat atau tidak, mendekatkan saya pada target atau tidak. Maka sesungguhnya diperlukan kemampuan mengenali diri sendiri, yaitu mengenali titik rawan dalam diri, mengenali hal-hal yang mudah menjatuhkan/ menggoda dirinya, mengenali seperti apa pola-pola mencari kenyamanan diri, pola-pola menghindari tanggungjawab, kemampuan bersikap asetif (tegas), kemampuan disiplin diri, pola mencari pembenaran diri dan kecenderungan-kecenderungan dalam diri lainnya. Pengenalan diri ini menjadi kunci untuk membuat strategi, batasan atau disiplin diri sehingga fokus tetap terjaga dan target tercapai. Misalnya, mahasiswa C memiliki target IP semester 3.0, dan dia merencanakan mencapai nilai B untuk semua mata kuliah. Maka dia menjadwalkan jam belajar setiap hari 3 jam, disesuaikan dengan jadwal kuliah dan kegiatan lainnya. Tetapi banyak sekali penghalang yang muncul, ada banyak kegiatan kampus yang tiba-tiba diikuti, ada acara dengan teman dan pacar tanpa direncanakan, dan lain-lain. Setiap kali dia meng-cancel jam belajarnya karena hal lain, dia berfikir, ‘udahlah sekali ini aja’ atau ‘bentar doank kok’ atau ‘besok masih bisa lah’. Hal ini merupakan pola pembenaran diri, pola disiplin diri yang rendah, pola asertif (ketegasan) yang rendah. Jika pola ini tidak disadari dan diperbaiki maka akan merusak fokus dan target tidak tercapai.

Maka untuk menjaga diri tetap fokus dan dapat mencapai target setidaknya dua hal ini perlu mendapat perhatian, pertama pastikan target yang kita tetapkan bernilai dan mendorong kita untuk memperjuangkannya. Kedua buatlah skala prioritas dan berkomitmen mengarahkan diri untuk mengerjakannya dengan terlebih dahulu melihat pola-pola dalam diri yang merugikan dan mengubahnya. God Bless You