Golput Atau Jangan Golput?

pemilu 2019
photo by : Element5 Digital

Pemilu 2019 dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019, untuk memilih presiden dan wakil presiden, anggota DPR tingkat pusat, DPRD tingkat Provinsi, DPRD tingkat Kabupaten/Kota, serta anggota DPD. Menjelang terlaksananya hajatan tersebut, banyak anjuran dari tokoh-tokoh, baik tokoh nasional, tokoh masyarakat, maupun tokoh agama agar setiap pemilih yang sudah memenuhi syarat dapat menggunakan hak pilihnya, tidak golput.

Golput merupakan singkatan dari golongan putih, kelompok orang yang tidak menggunakan hak pilihnya. Ada beberapa alasan orang memilih untuk  golput. Alasan yang tidak keren adalah karena males, ngapain ribet-ribet ikut coblosan, lebih baik liburan, dll. Sedangkan alasan yang keren adalah karena tidak mendapati visi misi calon presiden atau legislator yang sesuai dengan idealisme pemilih. Contohnya, untuk pilihan presiden, mereka biasanya kecewa dengan beberapa kebijakan yang pernah dibuat oleh petahana. Di sisi lain, mereka tidak menemukan sesuatu yang menjanjikan dari calon penantang.

Memilih adalah hak warganegara, bukan kewajiban. Jadi sebenarnya golput tidaklah salah di mata hukum. Namun bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai generasi muda Kristen? Adakah dasar firman Tuhan yang dapat digunakan untuk menentukan sikap kita?

Yer 29:7 mengatakan  Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

Ayat tersebut muncul saat bangsa Israel masih dalam pembuangan di Babel. Mereka sebenarnya rindu untuk kembali ke tanah airnya. Namun justru Tuhan meminta mereka untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana mereka sedang berada. Bagi kita sekarang, sebagai umat Kristen, kita bisa jadi masih mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan karena kita minoritas. Ada kebijakan-kebijakan yang belum berpihak kepada kaum minoritas. Namun, seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan, kita patut mengusahakan kesejahteraan kota di manapun kita berada sekarang.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah berdoa. Cara lainnya adalah dengan menggunakan hak pilih kita dengan bertanggungjawab. Tidak menerima suap untuk memilih salah satu calon, dll.

Rasul Petrus juga pernah menasihatkan kepada orang-orang Yahudi di perantauan :

I Petr 2:12-14  Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,  maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.

Meski berada di perantauan, berada dalam situasi dan kebijakan yang tidak menguntungkan bagi para perantau, rasul Petrus meminta para perantau itu untuk memiliki cara hidup yang baik di manapun mereka berada. Praktiknya adalah dengan tunduk kepada semua lembaga manusia yang diizinkan Tuhan memiliki otoritas. Bagi kita sekarang, mari kita juga tunduk kepada pemerintah, dengan mengikuti proses pemilihan umum 2019. Sebab sejatinya, itu adalah praktik kita tunduk kepada Allah. Itu adalah praktik kita untuk menjadi contoh yang baik di tengah lingkungan masyarakat kita, walau kita adalah minoritas.

Golput adalah hak, namun mari berpartisipasi untuk kesejahteraan kota, provinsi, maupun bangsa dan negara kita. Mari menjadi terang, menjadi contoh yang baik di manapun kita berada. Caranya adalah dengan menggunakan hak suara kita. Suara kita ikut menentukan masa depan bangsa.

Follow us in social media :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*