Fokus

Penulis : Daniarti Dhyan Christanti (Dosen Universitas Pelita Harapan)

(Dosen Universitas Pelita Harapan)

Mendengar kata fokus, biasanya pikiran kita akan mengarah pada serangkaian tindakan yang menunjukkan komitmen untuk  mencapai sebuah tujuan atau target tertentu. Namun kemudian sering muncul perasaan tidak yakin apakah kita bisa mengerjakan semua itu, perasaan takut gagal, merasa tidak mampu atau merasa tidak lagi bersemangat untuk mengejar target tersebut. Semua hal itu membuat kita kehilangan fokus dan tidak dapat mencapai target yang diinginkan. Bagaimanakah sebaiknya kita bersikap sehingga tidak menghancurkan fokus dan dapat mencapai target?

Kita tidak bisa menjaga diri untuk fokus seringkali karena tidak memberi nilai pada target itu. Hal ini terlihat dari bagaimana persepsi kita pada target tersebut? Seberapa bernilainya target itu bagi kita? Terkadang sadar atau tidak sadar, kita tidak melihat target itu bernilai untuk dikejar atau diperjuangkan, akibatnya kita cenderung mudah melepaskan target tersebut, mudah merelakan jika target itu tidak tercapai, memberi banyak dalih untuk pelanggaran komitmen, membiarkan kegagalan karena tidak merasa kehilangan sesuatu yang bernilai. Misalnya, cara belajar, cara membagi waktu, cara mengerjakan tugas atau pola hidup mahasiswa A yang berfikir ‘yang penting lulus dan tidak mengulang mata kuliah’ tentu akan berbeda dengan mahasiswa B yang berfikir ‘harus lulus dengan nilai semaksimal mungkin’.  Mahasiswa A merasa lulus dengan nilai maksimal sebagai hal yang kurang bernilai, sedangkan mahasiswa B menganggap lulus dengan nilai maksimal adalah hal yang bernilai dan layak diperjuangkan. Mahasiswa B tentu akan memiliki perilaku yang lebih menunjukkan fokus dan komitmen untuk mencapai nilai terbaik dibandingkan dengan mahasiswa A. Dititik inilah kita perlu memeriksa diri, apakah saya memandang berharga target yang saya tetapkan? Apakah nilai dari target itu cenderung mudah digantikan oleh hal yang lain. Hal apakah yang akan mudah menggantikan nilai dari target yang saya tetapkan? Apakah saya benar-benar tahu mengapa saya memandang target itu berharga bagi saya?

Kita juga dapat menjaga fokus dan mencapai target dengan mengatur seluruh sumber daya dalam diri dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan. Hal ini berarti kita perlu membuat skala prioritas, memilah mana yang penting dan yang tidak penting, kemudian membuang hal-hal yang tidak penting. Dengan demikian seluruh energi, perhatian, sumber daya diarahkan hanya pada hal-hal yang benar-benar akan membawa pada tujuan saja. Disinilah kita sering mengalami kesulitan. Banyak orang sulit sekali merelakan (baca membuang/ meninggalkan) acara-acara, undangan-undangan, aktivitas-aktivitas, kursus-kursus, lingkungan pertemanan, atau banyak variable lain yang sesungguhnya tidak mengarahkan mereka pada target. Kondisi ini sering muncul dalam keseharian mereka, dan direspon begitu saja, tanpa dipertimbangkan apakah penting atau tidak, bermanfaat atau tidak, mendekatkan saya pada target atau tidak. Maka sesungguhnya diperlukan kemampuan mengenali diri sendiri, yaitu mengenali titik rawan dalam diri, mengenali hal-hal yang mudah menjatuhkan/ menggoda dirinya, mengenali seperti apa pola-pola mencari kenyamanan diri, pola-pola menghindari tanggungjawab, kemampuan bersikap asetif (tegas), kemampuan disiplin diri, pola mencari pembenaran diri dan kecenderungan-kecenderungan dalam diri lainnya. Pengenalan diri ini menjadi kunci untuk membuat strategi, batasan atau disiplin diri sehingga fokus tetap terjaga dan target tercapai. Misalnya, mahasiswa C memiliki target IP semester 3.0, dan dia merencanakan mencapai nilai B untuk semua mata kuliah. Maka dia menjadwalkan jam belajar setiap hari 3 jam, disesuaikan dengan jadwal kuliah dan kegiatan lainnya. Tetapi banyak sekali penghalang yang muncul, ada banyak kegiatan kampus yang tiba-tiba diikuti, ada acara dengan teman dan pacar tanpa direncanakan, dan lain-lain. Setiap kali dia meng-cancel jam belajarnya karena hal lain, dia berfikir, ‘udahlah sekali ini aja’ atau ‘bentar doank kok’ atau ‘besok masih bisa lah’. Hal ini merupakan pola pembenaran diri, pola disiplin diri yang rendah, pola asertif (ketegasan) yang rendah. Jika pola ini tidak disadari dan diperbaiki maka akan merusak fokus dan target tidak tercapai.

Maka untuk menjaga diri tetap fokus dan dapat mencapai target setidaknya dua hal ini perlu mendapat perhatian, pertama pastikan target yang kita tetapkan bernilai dan mendorong kita untuk memperjuangkannya. Kedua buatlah skala prioritas dan berkomitmen mengarahkan diri untuk mengerjakannya dengan terlebih dahulu melihat pola-pola dalam diri yang merugikan dan mengubahnya. God Bless You