Tuhan Melihat Hati

red.apple@timelicious.com

BERDIRI di selasar lantai dua kampus, aku bisa melihat dua laki-laki bersandar di pembatas selasar lantai tiga gedung seberang. Yang satu, tampak bersinar. Dia adalah Mahesa. Tuhan telah mengirimkan dia ke dunia sebagai “Paket Combo”. Dia mampu membuat perempuan waras menoleh kepadanya berkali-kali, aku salah satunya. Mahesa tahu namaku, seperti dia tahu nama Presiden Indonesia yang pertama hingga yang terkini, seperti dia tahu nama Michael Jordan, seperti dia tahu besok hari apa. Aku hanya sekedar nama untuknya. Bila berpapasan, kadang dia menyapa, kadang seperti lupa.

Yang satu lagi, biasa saja. Berdiri di sebelah Paket Combo, dia tampak seperti “Paket Hemat”, aku tidak perlu berpanjang-panjang membuat gambaran dirinya. Dia tahu namaku, dia tahu makanan kesukaanku, dia tahu selera humorku yang payah, dia tahu kebodohanku, dan dia tahu semua yang—herannya—tidak pernah aku tutupi hanya terhadap dia. Jujur saja, aku tidak punya kepentingan, maka aku tak merasa harus jaga image di hadapan lelaki seperti dia.

Paket Hemat tiba-tiba melihat ke arahku. Dia tersenyum lebar dan melambaikan tangan. “Apa lihat-lihat? Kangen, ya? Kuliah apa?” teriaknya.

Hatiku mencelos. O, come on bukan kamu yang sedang aku pandangi.

Sementara, Mahesa sibuk dengan ponselnya.

* * *

Satu bulan kemudian.

SENJA Utama Solo yang kutumpangi sudah mulai bergerak pelan saat seorang lelaki berkaos hitam Che Guevara dan jeans biru lusuh datang membawa bantal angin plastik bergambar Donald Bebek. Kupikir, mengapa lelaki seganteng itu jadi penjaja bantal di kereta?

Aku tak bergerak. “Nggak, Mas. Terima kasih,” kataku.

Di dalam dengusnya, dia menahan tawa geli. “Gue tadi udah duduk di situ. Lo bisa tolong geser dikit? Pantat gue lebar,” katanya.

“Maaf ya, Mas.” Aku bergeser hingga pundakku menyentuh jendela berkaca buram itu. Aku jadi salah tingkah. Untunglah tak lama, senyum ramah di bibirnya mendamaikan hati, termasuk melenyapkan rasa lelahku setelah seharian itu mengikuti seminar di Jakarta.

Setelah beberapa saat aku hanya diam dengan earphone yang tersambung ke sebuah walkman di dalam tasku, dia bertanya, “lo dengerin apa?”

“Il Divo. Tahu?”

Dia meraih sebelah earphone tanpa basa-basi, mendengarkan sebentar, lalu mengangguk pelan. “I only wanna be a man, to give you everything I can.” Dia mengulang lirik yang baru saja kami dengar. “Lagu cengeng. Tapi, cowok yang baik memang memberi semua yang dia bisa ke ceweknya,” lanjutnya.

“Mas-nya begitu?”

Dia menggeleng, “gue berusaha,” katanya.

Sepanjang perjalanan menuju Solo, aku tak bisa mengantuk. Obrolan dengannya begitu hidup, seakan dia laki-laki yang memiliki begitu banyak ketertarikan sehingga nyambung dengan ragam obrolan. Dewasa.  

Setiba di Solo, dia buru-buru turun terlebih dulu sebelum petugas meletakkan tangga di depan pintu kereta. Dia mengulurkan tangannya padaku, membantuku turun. “Masih subuh, gue antar ke kos lo, ya. Bahaya cewek jalan sendirian sepagi ini,” katanya.

Aku terperangah. “Nggak usah repot. Aku sudah biasa.”

No. Pokoknya gue antar. Lo sholat?” Dia bertanya.

Dua detik terpana, aku menggeleng.

“Lo tunggu gue ya, gue sholat dulu. Pokoknya, gue antar.”

Aku mengangguk. Tertawa di dalam hati.

* * *

Tiga bulan kemudian.

“MBAK. Dapet salam dari Mas Hadi,” kata ibu penjual ayam bakar di samping kos, sedang tangannya sibuk mengipasi ayamku di atas bara.

“Mas Hadi yang mana, Bu?” tanyaku.

“Ada. Nganu … anak kos dekat sini juga. Beberapa kali sampeyan ke sini, dia juga sedang di sini. Tapi, ndak tahu kenapa cuma diam ndak mau nyapa langsung, malah nitip salam,” jelas si Ibu sambil tersenyum menggoda.

Aku hanya mengangguk.

“Salam kembali, ndak? Guanteeeeng loh.”

“Nggak usah, Bu. Nggak kenal,” kataku.

Ibu tersenyum. “Nah, benar. Harus begitu,” ujarnya.

Beberapa hari setelah itu, Hadi menampakkan wujudnya. Dia menghentikan sepeda motornya di depanku saat aku dalam perjalanan pulang ke kos. Basa-basi ini dan itu, diakhiri dengan bertukar nomor ponsel.

Permintaan pertamanya untuk datang ke kos aku tolak dengan alasan sudah ada kegiatan lain. Aku tidak merasa benar mengiya pada permintaan pertama, tips di internet yang melarang. Katanya, supaya tidak terkesan murah. Lagi pula, aku tidak mau dinilai telah silau dengan sepeda motor Ninja merahnya itu.

Setelah permintaan yang ketiga, aku baru mengizinkannya. Pukul 7 malam sudah lama berlalu, Hadi tidak juga muncul . Tidak ada pesan dan sampai kapan pun aku juga tidak akan bertanya.

Hingga jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 10, barulah ada pesan masuk darinya.

Sorry, aku nggak bisa datang. Ada sembahyang. Aku lupa kalau malam ini purname. Besok malam mau ya?

Purname? Bulan purnama? Sembahyang?

Farah, teman kos sekaligus teman komsel tertawa menyamai Ursula. “Bu, Bu, nasibmu, Bu,” katanya di sela tawa yang tak juga reda. “Kemarin di kereta, kepentok Masjid. Sekarang, kepentok Pure.

Aku mencebik kecil, mempermainkan tali bantal guling sampai keriting. “Aku nggak sadar kalau sudah sewajarnya dia ke Pure. Wong dia memperkenalkan diri sebagai Gde padaku, bukan Hadi. Nggak selalu orang Bali ke Pure sih, tapi ya … yang ini nyatanya begitu. Kapan aku punya pacarnya kalau begini, ya? Semua berakhir sebagai teman.” 

 Farah lalu menyebutkan sebuah nama. “Dia baik loh, Bu,” katanya dengan wajah serius.

“Oh, si Paket Hemat … memang baik.”

“Lantas?”

Aku tak menjawab Farah. Sebagai sesama perempuan yang giting karena melihat wajah Lee Min Ho, Won Bin, dan sederet Paket Combo lainnya, Farah tak wajar bertanya begitu.

“Paket Hemat?” ulang Farah, lalu dia kembali tertawa keras.

* * *

“NAT! Nat! Tunggu, Nat!”

Aku menoleh ke belakang untuk mencari asal suara yang baru saja meneriakkan namaku.

Mahesa!

Amboi … hari ini aku tidak sekedar terlihat saja, aku juga terpanggil. Kulemparkan senyum yang paling manis untuknya.

“Kamu lihat Ruben?”

Bah! Cuma mau bertanya di mana si Paket Hemat.

“Sekarang ini ada teknologi yang disebut handphone. Call him. Done,” kataku.

“Kamu galak banget, sih.” Mahesa mengacungkan ponselnya. “Aku sudah telepon, nggak diangkat-angkat. Dia bawa USB-ku.”

Flashdisk! Bukan USB! Buat apa dia bawa-bawa flashdisk-mu? Punya dia juga banyak.”

Aku malah balik bertanya untuk sesuatu yang bukan urusanku. Entah mengapa aku bertanya begitu setelah aku mengingat bahwa Ruben punya beberapa flashdisk (Ruben pernah memberiku satu flashdisk baru setelah fee sebagai asisten dosen miliknya cair. Aku memaksanya mengambil setumpuk komik milikku sebagai barter. Menerima barang gratis dari laki-laki adalah pelanggaran peraturan baku dari nenek moyangku ).

Kedua alis Mahesa melengkung ke atas. “Nggak usah galak, Nat. Aku copy tugas dari dia, sebentar lagi dikumpul. Biasanya dia gasik (datang lebih awal),” ujar Mahesa, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kami, seakan Ruben bisa ada di mana saja.

Mahesa yang gelisah secara berlebihan membuat semua hal tentang dirinya yang tadinya tampak begitu besar di mataku, kini menciut begitu kecil.

Ingatanku melayang ke suatu hari di akhir Semester lalu. Di sebuah warnet yang berada di depan kampus, Ruben duduk di sampingku, sementara aku sedang mengecek nilai mata kuliah Pemrograman Perangkat Bergerak(Mobile Programming) di portal mahasiswa.

“Dapat apa?” Dia bertanya.

“Rantai karbon,” jawabku.

Aku tak perlu balik bertanya Ruben dapat nilai apa. Aku sudah tahu, bahkan sejak sebelum ujian.

“Aku selalu ngasih kamu copy tugas-tugas yang diberi dosen, tapi kamu jarang mengumpulkan,” katanya dengan mulut dipenuhi pisang goreng isi cokelat keju.

Bicara pemrograman piranti lunak—software, artinya bicara seribu satu jalan menuju Roma. Jika 26 mahasiswa di kelasku benar-benar membuat tugas secara mandiri, maka ada 26 juga cara mengerjakannya.

“Aku selalu mempelajari copy dari kamu, Ben. Kalau aku bisa memahami jalan logikamu, aku akan membuat sendiri dengan alur yang berbeda. Setidaknya, ada yang berbeda … tidak sama persis dengan punyamu. Mukaku mau taruh di mana kalau dosen sampai tahu tugas kita isinya sama? Cuma beda variabel. Kamu tulis X, aku ganti jadi Y.”

Ruben menyeringai lucu, memperlihatkan gigi penuh coklat.

Aku tidak menyukai tatapan yang menertawakan seperti itu. “Aku ini nggak pintar, Ben. Tapi, aku nggak pernah nyontek. Seumur-umur, aku nggak pernah nyontek. Pernah ding, pas SMP. Sekali itu doang,” kataku.

Ruben mengangguk-angguk sok takzim sembari menjejalkan sisa pisang gorengnya di tangannya ke mulutku.

* * *

Setahun kemudian.

AKU menangkupkan kedua tangan ke wajah. Mataku pedih menatap layar laptop, otakku pedih memikirkan deretan code yang tampil di sana. Sudah dari pagi aku mendamparkan diri di rumah Ruben. Sedari tadi, aku berusaha menyelesaikan kegagalan programku dengan panduan Ruben, masih saja mentok.

Ruben, si Paket Hemat, berbaring santai di atas sofa ruang tamu dengan sebuah komik “Katsu!” di tangan, setumpuk lagi ada di lantai. Dia sudah wisuda 2 bulan lalu. Belakangan ini, dia sibuk melamar pekerjaan via internet dan mengikuti beberapa job fair.

“Pusing?” tanya Ruben.

“Kurang jelas?”

Sudah sejak lama Ruben tak pernah lagi memberiku copy tugas begitu saja. Dia akan membantu aku untuk memahaminya dengan menjelaskan runtut logikanya penuh sabar. Yang sedang kukerjakan ini adalah skripsiku, tentu dia tak punya copy dan tentu aku harus menyelesaikannya sendiri kalau tak mau dibabat habis dan tampak tolol saat sidang 3 hari lagi.

Ruben mencabut earphone dari telingaku. “Jangan-jangan benda ini yang bikin kamu nggak bisa konsentrasi,” katanya sembari memakaikan ke telinganya sendiri. “Bukannya memikirkan skripsi, malah nyanyi-nyanyi dalam hati.”

One hundred percent correct , kataku di dalam hati.

“Il Divo ….” Ruben mengucapkannya dalam gumam pelan. Dia tidak suka lagi dengan genre semacam ini, kalau dia tahu Il Divo, itu karena aku suka Il Divo dan suka memaksa Ruben mengunduhnya dari Laboratorium Komputer tempat dia mengajar.

“Ya. I just wanna be a man, to give everything I can. Tahu artinya, nggak?” tanyaku.

Aku menyindir kemampuan bahasa Inggris-nya. Setidaknya, ada juga yang bisa kubanggakan dan yang tidak bisa dia banggakan. Nilai bahasa Inggris Ruben bisa bagus kalau menyoal grammar, kalau menyoal listening dan conversation adieu!

Ruben mencebik. “Sombong!”

“Eh, Ben ….” Aku menoleh ke arahnya. “Cowok yang baik memberi semua yang dia bisa ke ceweknya, ya?”

Bibir Ruben mengerucut, keningnya mengkerut, lalu beberapa detik kemudian dia menggeleng. “Kok, kesannya gampang, ya? Cowok versi-mu lebih baik,” jawabnya.

Tidak ada tanda-tanda dia akan menjelaskan jawabannya lebih jauh. Aku mencecarnya, “kamu tahu apa tentang cowok versi-ku?”

“Tahu, dong … kamu nggak langsung suka dengan cowok yang memberimu hal-hal yang dia bisa. Dikasih copy tugas, kamu nggak mau pakai. Kamu malah mau jalan yang lebih susah; kamu maunya diajari, dijelaskan, ditemani. Apa peribahasanya? Dikasih ikan, malah minta alat pancingnya. Lah, sekarang ini misalnya, aku mau bantu mengerjakan, kamu mau mengerjakan sendiri. Mending kalau selesai.”

Aku menelan ludah mendengarnya. Itu pujian atau hinaan?

Ruben mencolek pelan kepalaku. “Eh, Non! Kalau ada cowok yang tahan menghadapi tuntutanmu yang menyusahkan ini, selamat! Dia nggak cuma baik, dia hebat!”

“Yaaah, Ben … apa itu salah?”

“Entahlah. Yang aku tahu, aku nggak bisa main PS sama Mahesa gara-gara menemani kamu di sini. Minggir! Sini aku yang kerjakan, setelah itu aku jelaskan sampai kamu paham.”

Tidak sampai setengah jam, kutu-kutu busuk yang menggerogoti program skripsiku punah dibasmi Ruben. Aku merasa buruk. Lalu, Ruben menjelaskan apa yang sudah dia kerjakan padaku sampai aku jengah dan berpura-pura paham karena sadar Ruben sudah berbusa-busa lebih dari 3 jam. Aku makin merasa buruk.

“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Nat. Apalagi Dia melihat kamu berusaha mati-matian,” hibur Ruben setelah melihat air mataku luruh tak malu-malu. “Tuhan akan mempermudah sidangmu nanti.”

Aku ngeri mendengar kata sidang yang dia ucapkan, membuat aku merasa telah sampai pada titik tertinggi kebodohanku. Bagiku, ucapan-ucapan surga Ruben hanyalah copy paste dari sana-sini, terdengar semu, terasa kosong.

“Ben … dengar baik-baik,” kataku sembari memejamkan mataku, aku berusaha mengingat sebuah kalimat yang pernah aku baca entah kapan dan dimana. “Jika Tuhan itu mahabesar, maka Dia pasti mampu menciptakan sebuah batu yang luar biasa besar, sehingga Dia sendiri tidak mampu mengangkatnya. Bagaimana kamu menjelaskan itu dengan argumenmu tadi; tidak ada yang mustahil bagi Tuhan?”

Ruben tidak menjawab. Dia menunduk, menggerakkan mouse dengan ujung telunjuknya.

“Kamu nggak bisa jawab karena kamu nggak tahu apa yang kamu katakan tadi, Ben. Aku nggak pintar! Semua ini terasa mustahil! Kamu bisa bicara seenaknya begitu karena kamu nggak pernah memiliki kebodohan ini! Kamu memiliki semua yang kamu butuh. Hidupmu itu jalan tol! Cuuuus! Lurus tanpa hambatan!”

Ruben seketika mengerling ke arahku. “Oh ya? Aku bisa memiliki semua yang aku butuh? Masa, sih?” tanya Ruben dengan suara yang dipelankan.

“Ya! Kamu kurang apa?”

“Aku butuh kamu, Natalia. Tapi nggak bisa memiliki kamu, mungkin nggak akan pernah bisa. Aku cuma Paket Hemat.”

WHAT?

Kalimat terakhir Ruben adalah sebuah balok yang dilesakkan ke dalam batang leherku, aku sesak. Aku tak lagi sekedar merasa buruk dan bodoh, aku merasa kecil, kecil, dan kecil sekali. Aku ingin menghilang dari hadapannya. Atau, aku bunuh diri saja. Garpu di atas piring roti lapis di samping laptopku ini mampu membunuh seefisien guillotine.

Aku cuma Paket Hemat.

Kalimat Ruben bergaung di kepalaku.

Aku yang cuma kuman di karpetmu ini, Ben ….

“Nat?” panggil Ruben.

Aku tak mampu mengangkat kepala. Ya, Tuhan Yesus tolong aku, batinku menjerit-jerit. Semenit lalu, aku menggugat kemapanan Tuhan. Sekarang, aku melolong minta tolong pada Tuhan yang sama. Tuhan pun menertawakan aku.

“Nat, jangan menangis, please … nanti mama mengira aku berbuat yang nggak-nggak,” bisik Ruben.

Aku mengelap air mata campur ingus dengan leher kaos yang kupakai.

Ruben meraih kotak tisu di samping televisi dan meletakkannya di pangkuanku. “Jorok sekali. Kok, aku suka cewek jorok …,” gumamnya.

Aku hanya pernah mengatakan istilah Paket Hemat itu kepada Farah. Kami semua satu fakultas, Ruben kenal Farah. Aku tidak perlu menyangkal julukan pemberianku itu pada Ruben saat ini karena Farah tidak berbohong, Farah hanya tega.

“Maafkan aku, Ben ….” Setulus hati kukatakan itu meski masih tak mampu menegakkan kepala.

“Yang kamu katakan mengenai batu besar itu adalah paradoks, Nat. Aku nggak tahu penjelasannya. Nggak ada yang mustahil bagi Tuhan. Itu saja yang aku yakini,” kata Ruben. Dia memilih membahas pertanyaanku ketimbang hinaan terhadapnya.

“Ben—”

“Coba aku balik tanya ke kamu.” Ruben memotong ucapanku. “Mengapa Tuhan menciptakan pohon pengetahuan baik dan buruk? Mengapa Tuhan melarang manusia memakan buahnya, tetapi malah meletakkan pohonnya di tengah-tengah taman? Mengapa Tuhan baru menempatkan Kerub untuk menjaga pohon itu, justru setelah manusia memakannya? Mengapa begitu besar niat Tuhan untuk mengejar ego manusia sampai ambang batas maksimal?”

Aku tidak tahu mengapa. Lagi pula, untuk bicara satu patah kata lagi saja, aku merasa tak layak.

“Makanya, aku lebih suka baca komik,” lanjut Ruben. “Kalau aku seperti kamu yang terlalu banyak membaca buku-buku berat, aku akan jadi atheis ketika memikirkan jawaban ini dan itu. Untukku, iman itu adalah buah perasaan, Nat. Bukan melulu buah pikiran. Kalau pertanyaanku tadi aku jawab sendiri menggunakan pikiran, jawabannya akan jadi aneh.”

“Ma—maksudnya?”

“Salah satu saja misalnya, mengapa Tuhan baru menempatkan Kerub setelah manusia memakan buahnya. Aku akan jawab, karena Tuhan sudah lelah.

“Le—lelah?”

“Nggak usah gagap begitu, Nat. Kamu malah makin menggemas—maksudku, Tuhan sudah bekerja 7 hari full, kan. Bisa jadi Tuhan sudah lelah sampai-sampai nggak terpikir untuk menempatkan Kerub dari awal. Logikaku begitu.”

“Itu bukan gurauan karyamu sendiri! Sejak kapan kamu gandrung Mark Twain?” Akhirnya, ada juga yang bisa memicu kebawelanku kembali mengudara: kebohongan Ruben.

Ruben menyeringai lebar. “Aku nggak cuma baca komik. Aku belum bilang ya?”

* * *

SIDANG skripsiku berjalan lancar. Tidak ada pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Semua kujawab meski ada jawabanku yang hanya terdiri dari tiga kata: saya tidak tahu. Apapun hasilnya, aku sudah lega. Bila harus merevisi, nilai pas-pasan, atau mengulang sidang, aku akan menjalaninya.

Sejak tragedi Paket Hemat  di rumah Ruben, aku belum pernah bertemu dia lagi. Tadi malam, dia hanya mengirim pesan agar aku banyak berdoa dan percaya pada pertolongan Tuhan Yesus. Dia bilang, dia tidak bisa datang karena hari ini dia harus berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja.

Berjalan pelan menyusuri lorong fakultas, aku berniat untuk mengirim pesan singkat pada Ruben bahwa sidangku sudah selesai dan aku sangat berterima kasih atas bantuannya. Aku mengeluarkan ponsel dari saku rok hitam yang kupakai, baru saja aku menyalakan layarnya, aku mendengar namaku dipanggil dari arah depan. Ruben ada di sana, duduk di ruang tunggu dengan ransel besar di bawah kakinya.

Dia meraih ranselnya dan datang mendekati aku yang hanya bisa terpaku melihat dia ada di kampus, di situ, menungguku.

“Lega, Nat?” Senyum Ruben mengembang sempurna.

Aku membalas senyumnya. “Ya. Thanks to you.

“Bukan aku yang menemanimu di dalam situ,” balasnya.  

“Ya. Thanks to Daddy J untuk yang itu … bukannya kamu naik pesawat pagi?”

Ruben tersenyum samar. “Aku akan ke bandara sekarang. Pesawatku dua jam lagi.” Ia menepuk pundakku,  meremasnya pelan. “Kamu pasti lulus. Paling revisi … ya, bisalah ….”

Aku mengangguk, “ya, aku bisa.”

Ruben melepas tangannya dari pundakku. “Bye, Nat.” Ditariknya kuncir ekor kudaku, lalu buru-buru berbalik dan berjalan menjauh. Hingga punggungnya menghilang di anak tangga, dia tidak menoleh lagi. Dia tak menunggu aku mengatakan apapun.

Mungkin dia menyukaiku, mungkin sudah berhenti. Dia tidak pernah membahasnya lagi. Mungkin aku juga menyukainya, atau baru mulai menyukainya. Aku tidak mau memikirkan itu, aku hanya ingin membiarkan hatiku merasakannya.

Bye, Nat.

Mengapa dia tidak bilang. Bye, Nat. See you. Apakah dia tidak mau bertemu denganku lagi dan senyumnya tadi akan jadi yang terakhir kali? Selama pertanyaan ini belum terjawab, aku rasa aku akan setengah mati merindukan dia. Dia adalah Paket Combo karena pikirannya, karena caranya terhubung dengan Tuhan yang dia sembah.

Salah satu dosen penguji memanggilku untuk kembali masuk. Aku dinyatakan lulus dengan revisi minor; typo, penggunaan istilah asing, semacam itu. Hanya kujawab dengan anggukan kepala berkali-kali.

Semua dosen penguji sudah keluar dari ruangan, tinggal aku membereskan barang-barangku. Tidak ada sedikitpun rasa senang dengan keputusan sidang itu. Biasa saja.

Aku membuang pandanganku ke luar jendela, langit begitu biru. Entah di mana Ruben kini berada. Jika Tuhan masih mengizinkan aku bertemu dengannya, maka aku akan bertemu. Sebelum itu terjadi, bahkan sejak detik ini, aku berjanji pada diri sendiri, pada Tuhan, untuk belajar melihat hati. Sebab, Tuhan melihat hati. ∎ 

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata,tetapi TUHAN melihat hati.”

1 Samuel 16:7