Jangan Kecewa dan Menolak-Nya

Dalam Mat 11:6 dikatakan Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.  Kepada siapakah ayat ini ditujukan? Ayat tersebut ditujukan kepada Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya. Situasi saat itu adalah Yohanes Pembaptis sedang berada di penjara (berhubung dengan peristiwa Herodes dan Herodias di Markus 6:17). Saat di penjara itulah Yohanes mendengar tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan Yesus. Bila di awal pelayanannya Yohanes begitu yakin bahwa Yesus adalah Mesias (Mat 3:13 dst), maka saat di penjara ia mulai ragu. Ia menitip pesan kepada para muridnya untuk menanyakan kepada Tuhan Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3)

Keraguan Yohanes bisa disebabkan berbagai macam hal :

  • Situasi penjara

Yohanes menjadi contoh hamba Tuhan yang tidak kompromi dengan dosa. Ia bahkan berani menentang orang-orang berduit, prajurit, orang berkuasa, bahkan raja! Itu sebabnya ia dimasukkan ke dalam penjara (Mark 6:17). Penjara adalah sebuah tempat (situasi) sendiri dan penuh keterbatasan. Keterbatasan bergerak, keterbatasan mendapat makanan dan minuman, keterbatasan kenyamanan, dll. Situasi penjara pernah juga dialami oleh : Yusuf, Petrus, Paulus dan Silas, Yesus. Penjara juga berbicara tentang rutinitas yang terus berulang seperti suatu lingkaran yang mana kita sulit untuk keluar darinya.

  • Tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri apa yang Yesus lakukan

Posisi di penjara membuat Yohanes tidak melihat dengan matanya sendiri apa saja yang sedang dan telah dilakukan oleh Yesus. Seringkali kita masih sangat tergantung dari apa yang kita lihat. Tuhan Yesus mengatakan di Yoh 20:29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”. Kita perlu belajar untuk melihat dengan mata iman  Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (II Kor 4:18)

  • Belum terlihatnya Kerajaan Allah yang dijanjikan

Ketika memulai pelayanannya, Yohanes Pembaptis diberi pesan oleh Tuhan tentang akan datangnya Kerajaan Allah (Mat 3:1 dst). Entah bayangan Kerajaan Allah seperti apa yang dibayangkan oleh Yohanes Pembaptis (bisa jadi seperti konsep bangsa Israel pada umumnya, bahwa mereka akan lepas dari penjajah Romawi). Yohanes belum melihat penggenapan dari pesan yang disampaikannya. Ia menanti tapi belum mendapatkan jawaban dari penantian tersebut. Apa yang dimaksud oleh Yesus tentang datangnya Kerajaan Allah dapat kita lihat di Luk 11:20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.

Ketiga hal tersebut pada akhirnya dapat membuat seorang Yohanes Pembaptis kecewa. Itu sebabnya Yesus mengatakan  “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Mat 11:6)

Kecewa bisa berakibat pada penolakan. Di Yoh 16:1 Yesus mengatakan juga kepada murid-murid-Nya, “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.” Namun di pasal sebelumnya Ia menjanjikan tentang Roh Kebenaran yaitu Roh Kudus yang akan menyertai para murid (Yoh 15:26-27) dan di Yoh 16:7 dst Yesus kembali berbicara tentang Roh Kudus. Betapa pentingnya kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus yang juga disebut Penghibur.

Pada akhirnya apakah Yohanes Pembaptis bebas dari penjara? Tidak. Justru ia dipenggal dan kepalanya dijadikan sebagai hadiah kepada Herodias (Mark 6:24 dst). Sepertinya tidak ada yang menyenangkan dari hidup Yohanes Pembaptis. Sedari muda ia menerima panggilan Tuhan dan tinggal di padang gurun (Luk 1:80). Setelah itu ia menyampaikan firman Tuhan dan justru dipenjarakan, pada akhirnya dipenggal. Kisah yang tidak diimpikan manusia. Namun di situlah kita belajar bagaimana Yohanes begitu ditinggikan Tuhan Yesus (Mat 11:7-9).

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, tetaplah mengikut Yesus sampai akhir. Jangan kecewa dan menolak-Nya. AMIN!!

Ringkasan kotbah Keb.Minggu Pagi, 27 Oktober 2019 oleh :  Pdt.Yesaya Sihombing