Ke Gereja Mencari Apa?

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri apa sebenarnya tujuan kita bergereja (menjadi jemaat dalam suatu gereja)? Jangan sampai kita salah tujuan. Ada orang yang bergereja hanya karena ingin berkat-berkat jasmani. Ada pula yang karena ingin mendapat penerimaan. Ada juga yang ingin mendapat jodoh, dll. Hal tersebut secara umum memang dapat menjadi tujuan orang bergereja. Bahkan kitapun mungkin pernah memiliki tujuan-tujuan demikian.

Di Ef 4:11 dst kita dapat melihat apa yang sebenarnya menjadi tujuan kita bergereja.

Ef 4:11-16 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Paulus mengatakan Tuhan memberikan hamba-hamba-Nya bagi gereja, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. Tubuh Kristus tersebut perlu mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai kepenuhan Kristus. Itulah yang menjadi tujuanĀ  kita berjemaat di suatu gereja. Agar kita terus didewasakan dan dibangun menjadi tubuh Kristus yang sempurna.

Sebagai tubuh Kristus kita perlu membangun kesadaran bahwa Tuhan Yesus adalah Kepala atas tubuh-Nya (Ef 4:15; 1:22-23). Kita dijadikan sebagai tubuh-Nya bukan karena kebakan yang kita lakukan. Jemaat sebagai tubuh Tuhan didapat melalui pengorbanan-Nya Kis 20:28 Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.

Sebagai jemaat Tuhan hendaknya menyadari kita bahwa orang percaya ditebus dengan harga yang mahal, bukan dengan emas atau perak, tapi dengan darah-Nya sendiri (I Petr 1:18-19). Artinya juga bahwa di dalam jemaat Tuhan kita sama-sama ditebus oleh darah Kristus. Di dalam tubuh Kristus ada tanda darah Kristus. Darah Kristus menebus, menguduskan, menyucikan, dan juga memperdamaikan kita dengan Allah dan manusia. Karenanya, kita harus menyadari posisi kita sebagai tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepala. Artinya sebagai tubuh Kristus kita tidak bisa sembarangan dalam memilih atau memutuskan sesuatu. Dengan kata lain, jangan hidup sekehendak hati kita sendiri.

Selanjutnya sebagai tubuh Kristus kita perlu membangun kesadaran : pertama, satu tubuh terdiri dari banyak anggota (I Kor 12:14). Paulus menggambarkannya dengan tubuh manusia, ada indera pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba, dll. Artinya sebagai anggota tubuh Kristus kita perlu menyadari perbedaan-perbedaan yang ada di dalam jemaat Tuhan. Jangan sampai perbedaan-perbedaan membuat kita merasa jauh satu dengan yang lain.

Selain itu, Paulus menasihatkan agar kita tidak hanya terpaku dengan pelayanan-pelayanan yang terlihat saja (I Kor 12:23). Seperti tubuh manusia, ada organ-organ dalam yang tak terlihat namun justru sangat penting, seperti tulang, paru-paru, jantung, dll. Kita perlu memberikan perhatian lebih kepada anggota-anggota yang demikian. Dalam pelayanan, bisa jadi mereka bukan pelayan mimbar, namun keberadaannya sangat penting bagi keberlangsungan gereja, contohnya adalah pendoa-pendoa syafaat.

Terlebih lagi sebagai sesama anggota tubuh Kristus kita perlu memiliki sambung rasa satu sama lain (I Kor 12:26). Ada keterikatan rasa. Ketika satu anggota menderita, semua ikut menderita. Ketika satu anggota dihormati, semua anggota ikut senang. Jangan sampai sebaliknya, susah melihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah. Itu sebabnya sebagai sesama anggota tubuh Kristus kita perlu saling memperhatikan.

Dalam hubungannya dengan Perjamuan Kudus, Paulus juga mengatakan Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu (I Kor 10:17)

Ketika menerima roti, kita menyadari bahwa itu adalah tubuh Tuhan. Tubuh Tuhan juga berbicara tentang jemaat yang merupakan tubuh Kristus, satu tubuh namun berbeda-beda. Menerima perjamuan kudus artinya menerima perbedaan satu sama lain

Anggur berbicara tentang darah Kristus yang telah menebus dan memperdamaikan kita dengan Allah dan sesama. Ketika menerima anggur, kita juga diingatkan untuk hidup dalam perdamaian antara satu sama lain sebagai sesama anggota tubuh Kristus.

Paulus juga mengingatkan agar kita tidak mendua I Kor 10:21 Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat.

Kita tidak bisa minum dari cawan Tuhan sekaligus minum dari cawan roh jahat. Dalam konteks ini Paulus berbicara tentang persembahan berhala yang juga dimakan oleh jemaat Korintus. Penyembahan berhala bukan sekedar berbicara tentang menyembah patung. Namun juga tentang hal-hal buruk seperti keserakahan, percabulan, dll (Kol 3:5). Penyembahan berhala juga dapat terjadi ketika kita menganggap konsep-konsep dunia ini lebih tinggi dari pada firman Tuhan.

Artinya, jangan sampai kita menerima perjamuan kudus, namun juga masih memelihara sifat-sifat buruk dalam hidup kita. Kita tidak bisa mengikut Tuhan namun masih memegang keduniawian. Itu sebabnya Paulus meminta kita untuk menyelidiki hati kita sendiri sebelum kita menerima Perjamuan Kudus (I Kor 11:28-30)

Karenanya, mari menyadari bahwa sebagai umat Tuhan kita perlu memiliki tujuan yang benar dalam beribadah. Kristus adalah Kepala dan kita adalah tubuh-Nya. Sadarilah perbedaan satu sama lain dan hiduplah dalam perdamaian karena darah Kristus telah memperdamaikan kita. Terus ingat kasih-Nya dalam hidup kita lewat mengikuti Perjamuan Kudus dengan cara yang benar.

Ringkasan kotbah Keb.Minggu Pagi, 3 November 2019 oleh :  Pdt.Yesaya Sihombing